Surat Terbuka

SURAT TERBUKA

Dear all,..

Surat terbuka ini saya tujukan bagi semua orang yang mau membaca surat dan peduli terhadap keterbukaan,..

Surat ini sudah terbuka, jadi anda tidak perlu berusaha untuk membukanya lagi, Jangan keluarkan energi berlebihan untuk membukanya, karna surat ini memang sudah terbuka. anda juga tak perlu meminta saya memberi tahukan cara membuka surat ini, karena surat ini sudah terbuka.

Sebenarnya saya juga ga pernah tahu kenapa surat ini terbuka. Entah siapa yang membukanya, tau-tau surat ini sudah terbuka begitu saja. Jika anda mengetahui siapa yang membuka surat ini, mohon beritahukan kepada saya, agar saya bisa membuatkan surat terbuka untuknya.

Mungkin anda berpikir bahwa mudah untuk membuat surat ini terbuka. Tapi, maaf,.. anda salah….  tidak mudah membuatnya,… karena surat ini tidak pernah tertutup, surat ini selalu terbuka. terus bagaimana cara untuk membuat surat ini terbuka, kalau surat ini tidak pernah tertutup?,.. coba anda renungkan.

Saya sebenarnya tidak ingin anda mengetahui adanya surat terbuka ini,.. tapi untuk apa surat ini terbuka jika anda tidak mengetahuinya… mari kita renungkan bersama,..

Terimakasih telah membaca surat terbuka ini,.. semoga anda semakin terbuka terhadap segala macam jenis surat(an)..

 

Salam,..

-ab-

 

 

 

 

 

saya adalah aku

kurasa, sebelum memulai mengisi blog ini, aku perlu memperkenalkan diriku terlebih dahulu,..

agung banardono, biasa dipanggil agung, -aku akan sangat senang jika anda memanggilku ‘ab’ saja-. Pada 7 September 1983 -tepatnya pukul berapa aku ga tau-, untuk pertama kalinya aku mengkonsumsi oksigen dari bumi ini, dan di saat itulah, untuk pertama kalinya juga, aku menangis, meskipun tak pernah ku tau apakah itu tangisan kebahagian atau kesedihan,..

Kecil, hidup, tumbuh dan dibesarkan di pinggiran selatan kota Yogyakarta, yang masih asri saat itu. Kota yang penuh dengan tata krama ini membesarkanku hingga SMP, dan membentukku menjadi remaja yang bandel namun bukan pemberani. Hal itu menjadi bekalku melanjutkan perjalanan masa remaja di sebuah SMA, di pinggiran kota Jakarta

Aku dapat merasakan betul perbedaan antara dua kota ini. Makanannya, angkutan transportasinya, pergaulannya, bahkan udaranya-pun terasa beda. Tak mudah aku beradaptasi dengan seisi kota ini. Tapi selama menyelesaikan masa SMA, aku mulai menikmati hiruk pikuk kota ini, dan tanpa kusadari, aku telah menjadi bagian dari keriuhannya.

………….

“…….. pulang ke kota mu,.. ada setanggkup haru dalam rindu…” suara Katon Bagaskara dan lagu-lagunya menjadi teman, saat kembali pulang ke Yogyakarta untuk meneruskan perjalanan pendidikanku. Yup,.. aku kuliah di Yogya -yang katanya kota pelajar, mungkin lebih tepatnya kota 1001 lembaga pendidikan-..

Kembali tinggal di kota gudeg, setelah sekian lama tinggal di Jakarta, membuatku merasa aneh,.. Kota ini telah berubah. Aku mulai merasa terasingkan.

…………..

Dan kini, aku kembali ke Jakarta, kota yang tak pernah diam, kota yang selalu bergeliat setiap detiknya,… Mungkin memang disinilah tempatku,.. diantara keriuhan yang tak kunjung sepi.

 

-ab-